Melayani dengan (C'TAAR) : Cepat , Transfaran,Akurat,Aksesnya mudah dan Relepan,

Gema Pemberdayaan,

Penghormatan Bengkayang yang Tulus kepada Ibu-Ibu di Tahun 2025

Bengkayang,Kamis, 18 Desember 2025: Hari Puncak Hari Ibu. Kembali di Aula Rangkaya, dimulai pukul 09.00, acara ini berdenyut dengan nuansa budaya. Para hadirin mengenakan keanggunan tradisional – perempuan dalam kebaya mengalir, laki-laki dalam batik khas Daerah– membangkitkan mozaik hidup warisan Indonesia. Suasananya? Elektris, seperti reuni keluarga yang diperbesar oleh kebanggaan nasional.

Acara Peringatan Hari Ibu

Acara diawali dengan Registrasi berlangsung dari pukul 08.00, menuju ke lagu-lagu kebangsaan: "Indonesia Raya", "Hymne Hari Ibu", dan "Mars Hari Ibu". Doa dan sejarah singkat Hari Ibu Indonesia diikuti, dengan penampilan menyentuh – lagu dari anak-anak berkebutuhan khusus, suara dari Forum Anak Bumi Sebalo, dan pertukaran hati seperti "Suara Bapak-Bapak untuk Emak-Emak" dan sebaliknya. Kepala Dinsos PPPA melaporkan kemajuan, sementara Gabungan Organisasi Wanita (GOW) memukau dengan puisi dan tari. Sambutan Bupati Sebastianus Darwis (yang diwakili oleh Ibu asisten satu) memicu tepuk tangan, membuka jalan bagi sorotan: penganugerahan sertifikat kepada Gender Champion dan Focal Point 2025, peluncuran maskot SIPUGA (simbol kesetaraan gender), dan foto bersama yang menangkap persatuan.

Anak-anak dari SD Negeri 2 Bengkayang menambahkan sentuhan imajinatif dengan penampilan mereka, sebelum acara ditutup pukul 12.15. Daftar tamu bahkan lebih megah, mencakup 57 tokoh: dari Wakil Bupati dan Ketua DPRD hingga komandan militer, hakim, kepala departemen, camat (kepala kecamatan), dan mitra seperti Rektor Institut Santi Buana, pimpinan PT Bank Kalbar, LSM seperti Wahana Visi Indonesia, dan perwakilan media. Bahkan "Bunda Paud" (Ibu Pendidikan Anak Usia Dini) dan ketua berbagai asosiasi perempuan bergabung, bersama Gender Champion dan Focal Point .

Apa yang membuat peringatan ini benar-benar kreatif? Bukan hanya acara; melainkan infus jiwa lokal. Di wilayah di mana peran perempuan memadukan tradisi dengan modernitas, Bengkayang menenun elemen seperti suara anak-anak untuk mengingatkan bahwa pemberdayaan dimulai dari rumah. Tema ini bergema dalam, membahas kekerasan sambil memperjuangkan kegembiraan – seruan untuk bertindak menuju Indonesia Emas 2045. Peserta pulang bukan hanya terinformasi, tapi terinspirasi, membawa benih perubahan kembali ke komunitas mereka.

Saat matahari terbenam di atas bukit-bukit bergelombang Bengkayang, Hari Ibu ini berdiri sebagai mercusuar: bukti bahwa ketika perempuan bangkit, seluruh masyarakat melambung. Untuk informasi lebih lanjut tentang inisiatif mendatang, kunjungi bengkayangkab.go.id atau hubungi “dinsospppa.bengkayangkab.go.id”. Salam untuk para ibu – pahlawan tak dikenal yang membentuk fajar emas esok hari.